RUANG KOMUNITAS (SIDE EVENTS)

Menakar Efisiensi: Ancaman atau Peluang bagi Gerakan Difabel?

LATAR BELAKANG

          Pasca pandemi COVID-19, istilah “efisiensi anggaran” semakin sering digunakan sebagai respon terhadap keterbatasan fiskal dan kebutuhan untuk mengalokasikan anggaran secara tepat sasaran. Awalnya, kebijakan ini bertujuan untuk memfokuskan anggaran pada prioritas tertentu. Namun, dalam praktiknya, efisiensi seringkali berdampak pada pengurangan atau realokasi dana di sektor sosial, termasuk program pemberdayaan kelompok rentan, salah satunya penyandang disabilitas.

           Dalam konteks kebijakan publik, efisiensi anggaran kerap diartikan sebagai penghematan melalui pemangkasan layanan sosial, bantuan, atau program pemberdayaan. Padahal, bagi penyandang disabilitas, program-program ini merupakan penopang utama untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Pemangkasan anggaran pada sektor yang dianggap bukan prioritas dapat membatasi akses dan melanggar hak dasar disabilitas.

        Lebih lanjut, proses pengambilan kebijakan jarang melibatkan penyandang disabilitas sehingga memperdalam ketimpangan dan menunda pemenuhan hak mereka oleh negara. Menyadari urgensi ini, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menyelenggarakan Call for Essay sebagai wadah bagi difabel, aktivis, dan pemerhati isu disabilitas untuk menyuarakan dampak kebijakan efisiensi anggaran dari perspektif mereka. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran publik, memperluas wawasan kritis, dan mendorong dialog konstruktif antara masyarakat sipil dan pemerintah. Dari proses ini, terpilih enam esai terbaik yang mengulas isu lintas sektor, mulai dari dampak efisiensi pada layanan kesehatan mental, perlindungan sosial, hingga pemberdayaan difabel.

          Untuk memperdalam diskusi, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menyelenggarakan diseminasi esai dalam Temu Inklusi 6, sebuah agenda rutin dua tahunan yang menjadi ruang berbagi, berjejaring, dan konsolidasi gerakan difabel untuk mewujudkan Indonesia yang inklusif. Kegiatan ini mengajak enam penulis esai untuk memaparkan gagasannya, diikuti tanggapan dari kementerian, lembaga, dan akademisi. Dengan pertanyaan utama, “Apakah efisiensi anggaran menjadi ancaman bagi gerakan difabel atau peluang untuk inovasi inklusif?”, kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan konkret yang memastikan efisiensi anggaran berpihak pada difabel.

TUJUAN

  • Kegiatan ini bertujuan untuk:

    1. Menyampaikan temuan utama dari enam esai terpilih mengenai dampak kebijakan efisiensi anggaran terhadap pemenuhan hak difabel.
    2. Meningkatkan kesadaran publik dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kebijakan efisiensi anggaran dengan perspektif inklusi difabel.
    3. Memfasilitasi diskusi lintas sektor guna mengidentifikasi risiko dan peluang kebijakan efisiensi anggaran bagi gerakan difabel.
    4. Menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti dari esai dan diskusi lintas sektor untuk disampaikan kepada pemangku kepentingan.
    5. Memperkuat jejaring kolaborasi antara difabel, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan pemerintah dalam mendorong kebijakan inklusif.

OUTPUT

Pada diseminasi ini, terdapat 3 poin utama yang akan dibahas, yaitu:

    1. Situasi kesenjangan yang dihadapi difabel terkait pemenuhan hak dasar, layanan publik, dan perlindungan sosial.
    2. Analisa dampak efisiensi anggaran yang memperburuk situasi kesenjangan yang dihadapi difabel.
    3. Rekomendasi untuk strategi advokasi kebijakan penganggaran publik yang berpihak pada kelompok rentan, khususnya Penyandang Disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta.

PENUTUP

           Diseminasi esai ini bukan sekadar ruang berbagi gagasan, tetapi upaya strategis untuk membangun kesadaran kritis terhadap kebijakan efisiensi anggaran dan implikasinya bagi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Melalui forum yang mempertemukan penulis esai dengan para pemangku kebijakan, akademisi, dan lembaga pengawas, diharapkan menjadi titik temu antara perspektif akar rumput dan pengambil keputusan.

       Hasil dari diseminasi ini tidak berhenti pada diskusi, melainkan dirumuskan menjadi rekomendasi konkret yang dapat dijadikan acuan dalam penyusunan maupun evaluasi kebijakan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memicu langkah nyata menuju kebijakan yang lebih inklusif, adil, dan berpihak pada penyandang disabilitas.

WAKTU DAN LOKASI

Rabu, 3 september 2025

13.00  – 16.00WIB

GOR  Durajaya, Kab Cirebon

PEMBICARA

6 Pembicara Esai pilihan

  1. Khambali – Program eliminasi kusta dalam cengkraman efisiensi anggaran
  2. Denita Permata Sari – Efisiensi Anggaran dengan Pendekatan Disability Inclusive Budgeting (studi kasus kabupaten purworejo)
  3. Clara Carissa Poppy Mahendra – Menghemat Tahun Hidup: Suara Penyintas Bipolar
  4. Richard Kennedy – Politik Anggaran Disabilitas dalam Kebijakan Efisiensi: Neoliberal-Ableisme versus Gerakan Disabilitas Kritis
  5. Eka Puji Srilestari – Menggugat Efisiensi: Suara Penyandang Disabilitas dalam Kebijakan Anggaran yang Mengikis Layanan Dasar
  6. Ifsan Massa Karundeng,S.H. – Efisiensi yang Tak Inklusif:  Refleksi Penyandang Borderline Personality Disorder (BPD) dalam  Krisis Layanan Publik di Daerah

 

Penanggap:

  • Kementerian Keuangan
  • Kementerian Sosial
  • Bambang Purwanto Cadrana, SKM, MKM – Direktorat Yankesren Kementerian Kesehatan
  • Ombudsman RI
  • Jonna Aman Damanik – Komisi Nasional Disabilitas
  • Dr. Rina Herlina Haryanti. S.Sos., M.Si.

MATERI

PENYELENGGARA

Copyright © 2025 Temu Inklusi.
All right reserved.